BERKAT DALAM KETERPURUKAN

Suatu hari Tuhan berkata kepada Nabi Yeremia:
“Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Disana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu.” Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
Kemudian datanglah firman Tuhan kepadaku, bunyinya: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel! Demikianlah firman Tuhan. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (Yeremia 18:2-6)

Terpuruk.
Diberkati.

Menderita.
Bersukacita.

Keduanya nampaknya tidak dapat disandingkan. Keduanya lebih cocok sebagai dua buah kata yang saling berlawanan. Bagaimana kita bisa merasa diberkati saat kita dalam keadaan terpuruk? Bagaimana kita bisa bersukacita saat penderitaan mendera?

Seorang kawan saya yang sedang menderita sakit dan membawa dia pada kelumpuhan, bertanya kepada saya. “Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa aku harus selalu tersenyum dan berkata Terimakasih Tuhan, ketika kamu tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk bangun dari tempat tidurpun membutuhkan bantuan orang lain? Bagaimana aku bisa tetap tersenyum ketika suamiku samasekali tidak mempedulikan keadaanku bahkan setiap hari mencaci makiku dengan perkataan kasar yang menyakitkan? Saat aku tidak mampu berdiri diatas kaki sendiri dan ia menuntut cerai dari aku? Saat mertuaku samasekali tidak mengasihiku dan orangtuaku berada jauh dari tempat tinggalku saat ini? Saat tidak seorangpun bisa aku ajak bicara? Apa yang kamu lakukan kalau kamu berada di posisiku? Bagaimana bisa kamu begitu teganya meminta aku untuk tetap bertahan?”

Ya, saya tahu dan dapat merasakan betapa beratnya kondisi yang dia alami saat ini. Lumpuh….. tidak berdaya……. kehilangan kasih sayang…… kehilangan harga diri…….. kehilangan pengharapan… saya tahu betapa tidak mudahnya untuk tetap tersenyum dan mengucap syukur dalam keadaan terpuruk.

Mungkin kita semua pernah mengalami saat dimana kita begitu enggan bangun dari tempat tidur karena kita merasa dunia tidak lagi bersahabat dengan kita. Karena kita merasa dunia menjadi gelap. Semua menjadi hampa dan kosong. Sebuah kekosongan yang tidak dapat diisi dan tidak dapat digantikan oleh apapun. Sebuah luka yang tidak ada obatnya. Sebuah kepedihan yang tidak dapat dihibur.

Tentu saja kita boleh menangis, tapi jangan lama-lama… kita boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut…. Karena satu hal pasti yang akan kita temukan setelah keterpurukan, yaitu berkat Allah. Kita pasti akan mengalami dan menerima berkat Allah yang paling besar, dan hidup kita akan menghasilkan buah berlimpah.

Namun berkat Allah yang terbesar itu hanya dapat kita peroleh apabila kita membiarkan diri kita diproses oleh Allah. Apabila kita menerima dengan sukacita bahwa Allah mengijinkan keterpurukan itu menjadi bagian kita. Apabila kita membiarkan Allah menyelesaikan dan menyempurnakan karya-Nya dalam hidup kita. Dan hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang menginginkan yang terbaik dari Allah.

Segala sesuatu terjadi atas seijin Allah. Maka, ketika kita mengalami keterpurukan, sebenarnya Allah mengijjnkan hal itu terjadi pada kita. Karena Ia sedang memurnikan kita, membentuk kita, dan menyempurnakan kita sehingga kita menjadi seorang yang berkenan kepada-Nya, menjadi semakin serupa dengan-Nya. Agar sifat lama kita dapat dibuang, titik lemah dalam watak kita dapat diketahui, dan talenta yang belum diketahui dapat terungkap. Pemurnian ini terjadi sepanjang hidup kita melalui beragam situasi dan lingkungan.

Seperti tukang periuk yang bekerja dengan rodanya, ia tidak bermaksud merusak karyanya, melainkan membuatnya lebih sempurna, lebih indah. Demikian juga Allah kita, ketika Ia ijinkan kita mengalami keterpurukan, sebenarnya Ia sedang membentuk kita menjadi seorang yang diinginkan-Nya sehingga kita dapat memuliakan Dia dan menerima berkat-berkat yang sudah Ia persiapkan bagi kita.

Tuhan memberkati.

oleh : L. I. R

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s